[Review] The Stoning Of Soraya M (2008) : Fitnah Kejam Yang Membungkam Suara Keadilan

 The Stoning Of Soraya M (2008) : Fitnah Kejam Yang Membungkan Suara Keadilan

When the mullah Law does not satisfy a man's needs, he will turn to the ancient laws to satisfy his wants


imdb.com
The Stoning Of Soraya M movie poster (dok. imdb.com)

Belenggu budaya patriarki masih menjadi isu utama yang menciptakan masalah serius berkaitan dengan ketidakadilan gender. Budaya patriarki menempatkan laki - laki sebagai pihak dominan dalam berbagai aspek dan mengesampingkan peran dan hak - hak perempuan. Budaya patriarki juga menempatkan perempuan pada posisi yang lemah tanpa pengaruh sehingga membuat perempuan termarjinalkan dan mengalami diskriminasi yang serius. 

Berangkat dari pemahaman tentang seriusnya masalah yang ditimbulkan akibat budaya patriarki yang sudah mengakar sejak lama, The Stoning Of Soraya M (2008) mencoba untuk menghadirkan kisah tragis seorang perempuan bernama Soraya Manutcheri (Mozhan Marno) yang harus mengalami nasib pilu karena menjadi korban dari sistem hukum yang kejam dan ketidakadilan gender di tempat tinggalnya, sebuah desa di Kota Kupayeh, Iran.

The Stoning Of Soraya M (2008) mengawali ceritanya dengan Zahra (Shohreh Aghdashloo) yang merupakan bibi Soraya menceritakan kisah tragis yang dialami Soraya kepada seorang wartawan Perancis bernama Freidoune Sahebjam (Jim Caviezel). Zahra bercerita bahwa kejadian bermula ketika Ali (Navid Negahban) yang merupakan suami Soraya ingin menikahi seorang gadis muda berusia 14 tahun dan berusaha untuk menceraikan Soraya. Namun, Soraya yang memiliki sifat berani dan dengan pendiriannya yang teguh berusaha untuk menolak perceraian tersebut. Penolakan dari Soraya kemudian membuat Ali merencanakan untuk menyebarkan fitnah bahwa Soraya telah berzina dengan harapan Soraya dapat dihukum dan Ali dapat menikahi gadis yang diinginkannya. Untuk memperlancar usahanya, Ali meminta bantuan pada imam desa yang korup dan tokoh desa lainnya dan mulai menyebarkan tuduhan palsu untuk menyudutkan Soraya. Dengan fitnah yang dituduhkan padanya, Soraya diseret pada pengadilan desa yang menyudutkannya. Karena ia tidak memiliki perlindungan dan pembelaan yang pantas, Soraya terpaksa harus menerima nasib tragisnya karena harus dijatuhi hukum rajam. Usaha Zahra yang membela dan berusaha menyelamatkan Soraya pun sia - sia karena Soraya tetap dihukum secara kejam oleh para penduduk desa hingga tewas secara mengenaskan. 

Setelah kematian Soraya, seorang wartawan dari Perancis bernama Freidoune Sahebjam secara kebetulan lewat di desa tersebut. Zahra melihat hal ini sebagai peluang untuk menceritakan semua kejadian yang dialami Soraya dengan harapan Freidoune Sahebjam mampu menyampaikan kisah ini kepada dunia luar. Melalui Freidoune Sahebjam, Zahra memiliki harapan tinggi kisah Soraya akan didengar seluruh dunia dan mampu merubah sistem patriarki yang membelenggu dan mendiskriminasi hak - hak perempuan. 


Dengan ceritanya yang penuh moral, The Stoning Of Soraya M berusaha untuk menghadirkan gambaran yang mengerikan mengenai ketidakadilan sistem melalui narasinya yang kuat dan emosional. Dengan gayanya yang realistis dan dramatis, The Stoning Of Soraya M berusaha sangat keras untuk menyampaikan pesannya bahwa masih ada perempuan yang karena belenggu sistem patriarki tidak memiliki hak dan kewenangan dalam menentukan nasibnya sendiri. Belenggu yang mengikat perempuan ini membuat perempuan seringkali mudah menjadi sasaran diskriminasi tanpa adanya perlindungan hukum, hal yang dialami oleh Soraya sebagai karakter utama.

Mencoba untuk membingkai secara tepat diskriminasi yang dialami Soraya, The Stoning Of Soraya M memfokuskan dirinya pada penderitaan Soraya dalam menghadapi kekerasan dalam rumah tangga, penindasan dan pada akhirnya mendapatkan 'penghakiman' atas kesalahan yang tidak ia lakukan. Cara The Stoning Of Soraya dalam membingkai semuanya secara berhasil mampu memainkan emosi dan menempatkan penonton pada rasa frustasi. Selain mencoba untuk menyoroti isu patriarki, The Stoning Of Soraya juga memberikan gambaran terburuk dari sifat manusia yang dipenuhi dengan nafsu dan keserakahan dapat menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya, termasuk menggunakan agama.

Untuk mempertahankan emosi dan menambah rasa frustasi pada penonton, The Stoning Of Soraya menghadirkan karakter imam desa menyebalkan yang seharusnya dapat diandalkan tetapi dengan mudahnya terhasut, benar - benar menggambarkan sosok pemimpin yang tidak bijaksana dan tidak amanah. Belum cukup menghadirkan karakter menyebalkan seperti imam desa, The Stoning Of Soraya mencoba untuk sepenuhnya membuat Soraya menderita dan meninggalkannya sendirian dengan membuat warga desa mempercayai fitnah yang dituduhkan padanya. Keberpihakan warga desa pada Ali secara berhasil membuat penonton semakin merasakan kedalaman emosi dan menaruh simpati yang mendalam pada karakter Soraya. Selain untuk menambahkan kedalaman emosi dengan membangun rasa simpati pada penonton, hampir seluruh karakter pada film ini merupakan cara The Stoning Of Soraya M dalam menjabarkan kalimat fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, karena fitnah dapat benar - benar membunuh seseorang. 

Soraya saat harus dihukum rajam oleh suaminya dan orang-orang desa (dok. imdb.com)

Isu patriarki dan agama yang secara konsisten ditekankan sepanjang film membuat film ini secara berhasil mampu menampilkan keputusasaan dan trauma yang mendalam pada karakter utamanya. Kepiawaian setiap pemeran dalam memberikan kesan mendalam pada setiap karakternya menjadi faktor kunci bagi keberhasilan film ini. Mozhan Marno sebagai karakter utama secara berhasil mampu menghidupkan karakter Soraya dengan memberikan kesan seorang perempuan pasif yang lemah dan tidak berdaya, namun dengan tatapan matanya yang tajam ia juga mampu memberikan kesan perempuan dengan pendirian yang kuat dan berani pada saat yang bersamaan. Navid Negahban yang memerankan karakter Ali juga mampu memberikan penampilan yang apik dengan perannya sebagai antagonis yang kejam, licik dan egois. Keberhasilan Navid Negahban dalam memerankan Ali mampu dibuktikan lewat emosi penonton yang meningkat di setiap kemunculannya. Selain Mozhan Marno dan Navid Negahban, Shohreh Aghdasloo juga mampu memberikan penampilan berimbang yang menunjang jalannya cerita. Tampil sebagai satu - satunya harapan bagi karakter Soraya, Shohreh Aghdasloo mampu memberikan kesan mendalam pada sosok Zahra yang berani, cerdas dan berhati mulia. Shohreh Aghdasloo secara mengesankan membuat karakter Zahra menjadi sorotan setelah dengan berani mendebat imam desa sesaat sebelum hukuman diberikan pada Soraya. 

Dalam usahanya memperkuat narasinya, music scoring yang dramatis dalam The Stoning Of Soraya M secara efektif mampu menampilkan emosi yang pas pada setiap adegan kunci film. Dengan didominasi alunan musik sedih dan menyayat hati yang secara berhasil mendukung perasaan ketakutan, penderitaan dan ketidakadilan setiap karakter dan pada satu waktu mampu membuat penonton meneteskan air mata. Untuk lebih membuat penonton hanyut dan fokus pada ceritanya, The Stoning Of Soraya M memilih untuk menggunakan sinematografi yang sederhana dan lebih menekankan pada kekuatan narasi, dialog dan akting para pemerannya. 

Dengan maknanya yang dalam, The Stoning Of M secara efektif berhasil menyampaikan pesan - pesannya pada penonton. Film ini secara berani menggugah kesadaran penonton akan hak asasi manusia dan lebih memperhatikan isu ketidakadilan gender akibat dari budaya patriarki. The Stoning Of Soraya M juga secara tegas mengkritik segelintir orang yang memanfaatkan dan berlindung dibalik kata untuk memenuhi kepentingan pribadi, satu hal yang masih sering ditemukan hingga saat ini. Karena mengandung pesan bermakna dan kritikan tajam, The Stoning Of Soraya M juga menjadi film yang sensasional dan pada satu waktu disebut sebagai film propaganda yang memanfaatkan tragedi Soraya untuk memberikan tafsiran yang keliru dan menyerang agama tertentu tanpa konteks sejarah yang jelas. Apapun tujuan dibuatnya The Stoning Of Soraya M, film ini tetap berhasil dalam menyuarakan suara perempuan dan secara tidak langsung mampu membuka mata dunia bahwa budaya patriarki dan diskriminasi pada perempuan nyata adanya. 

Selain pesan - pesan terkait isu sosial, The Stoning Of Soraya M juga memberikan tamparan keras pada penonton untuk lebih mengenal sifat manusia yang sesungguhnya. Melalui adegan saat Soraya yang sudah meninggal dan ditinggalkan oleh orang-orang, kemudian datang sekelompok penghibur dari luar kota yang menatap dengan nanar dan menutupi mayatnya dengan kain. Adegan ini singkat namun dengan sangat tepat mampu 'menyentil' penonton untuk menyadari bahwa orang asing yang bukan siapa - siapa terkadang bisa lebih bersimpati dengan apa yang dialami orang lain, lalu bagaimana bisa orang - orang yang sudah dianggap saudara dekat bisa menjadi hakim dan algojo atas kehidupan seorang perempuan. Lewat penggambaran ini, The Stoning Of Soraya M  mengajak penonton untuk lebih peduli dan bersimpati akan apa yang menimpa orang lain atas dasar kemanusiaan. 

Secara keseluruhan, The Stoning Of Soraya M. adalah film yang secara eksplisit menyampaikan pesan kuat tentang ketidakadilan gender dan kekerasan terhadap perempuan dalam budaya yang didominasi oleh sistem patriarki dan mampu menggugah emosi penonton. Dengan kepiawaian setiap pemerannya yang mampu menghidupkan setiap karakter berhasil menyampaikan pesan dengan baik tentang pentingnya melawan ketidakadilan gender yang membungkam keadilan dan hak serta martabat perempuan. The Stoning Of Soraya M menjadi film yang wajib ditonton tidak terbatas pada gender tertentu, agar setiap orang paham bahwa nafsu dan keserakahan dapat membunuh siapa saja. Terakhir, ini adalah satu fakta yang paling memilukan, semua yang terjadi dalam film ini merupakan kisah nyata yang ditulis dalam sebuah buku berjudul La Femme Lapidée tahun 1990 karya Freidoune Sahebjam yang bercerita tentang seorang perempuan bernama Soraya Manutcheri, ibu dari 4 orang anak yang meninggal karena dihukum rajam pada 15 agustus 1986.

Rating : 7/10

Director : Cyrus Nowrasteh

Writer : Cyrus Nowrasteh, Betsy Giffen Nowrasteh (Based on the novel by Freidoune Sahebjam)

Cast : Shohreh Aghdashloo, Mozhan Marnò, James Caviezel, Navid Negahban, Ali Pourtash 

Running Time : 1 Hour 44 Minutes

Genre : Drama

Posting Komentar

0 Komentar