Tenda Perayaan
Sesak dan amarah semakin memenuhi dada, menenggelamkan jiwa dalam samudera duka,
Kesakitan menghantam bagai ombak ganas, menyisakan isak yang berteriak,
Kehilangan mencekik, memenjarakan frasa yang tak terucap,
Tenda itu berdiri dengan gagah, menancapkan tiangnya pada hamparan air mata,
Tenda itu masih disana, menaungi cerita pilu di hari yang fitri,
Tanpa dekorasi, tenda itu menyambut babak baru dalam kehidupan yang kelabu,
di bawahnya berkumpul wajah penuh duka yang mencoba lepas dari kesengsaraan,
Tenda itu tetap disana, meski tak mampu menahan badai kehilangan yang menghentak kalbu,
Tenda itu tetap disana, meski tak sanggup memecah kerasnya luka yang menghancurkan asa,
Tenda itu tetap disana, meski tak kuat melawan angin yang membawa pergi kebahagiaan,
Tenda itu adalah prasasti, catatan akhir dari perjalanan seorang yang berani,
Tenda itu adalah panggung, akhir kisah dari memori yang telah terhenti,
Tenda itu menjadi bukti, ketika waktu berhenti dan raga takkan pernah kembali,
Tenda itu adalah perayaan, dari perpisahan yang tak pernah dinanti.





0 Komentar